Prodi Doktor Kajian Budaya Gelar Kuliah Tamu tentang Kajian Media dan Film dengan Narsum Dr. Seno Gumira Ajidarma

Program Studi Doktor Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, menyelenggarakan kuliah tamu dengan menghadirkan sastrawan dan pengamat film Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum., Jumat (25/9/2026). Kuliah tamu yang berlangsung secara daring tersebut mengangkat tema “Kajian Media dan Film di Indonesia dalam Konteks Cultural Studies.”


Kegiatan diikuti mahasiswa S2 dan S3 Kajian Budaya FIB Universitas Udayana, alumni, serta mahasiswa dan dosen dari sejumlah perguruan tinggi lain di Indonesia. Peserta antara lain bergabung dari Jember, Bandung, Kalimantan Timur, dan berbagai daerah di sekitar Denpasar.


Kuliah tamu berlangsung hampir dua jam dan dipandu oleh Yedija Remalya Sidjabat, mahasiswa S3 Kajian Budaya FIB Universitas Udayana. Jumlah peserta mencapai sekitar 50 orang pada puncak acara, sementara 43 peserta bertahan hingga kegiatan berakhir.


Koordinator Program Studi Doktor Kajian Budaya FIB Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Darma Putra, mengatakan kegiatan berlangsung lancar dan mendapat respons aktif dari peserta.


“Narasumbernya Mas Seno orang hebat. Mahasiswa jadi aktif bertanya dan menggali banyak pengetahuan dari narasumber,” ujar Prof. Darma.


Menurut Prof. Darma, Seno Gumira Ajidarma memiliki pengetahuan yang komprehensif untuk membahas tema media, film, dan Cultural Studies secara bersamaan. Selain dikenal sebagai sastrawan, Seno memiliki pengalaman panjang dalam dunia jurnalistik dan dikenal sebagai salah seorang pengamat film terkemuka di Indonesia.


“Kiranya tidak ada yang lebih tepat untuk berbicara mengenai ketiga topik film, media massa di Indonesia dalam konteks Kajian Budaya secara kombinatif selain MAs Seno,” katanya.


Dalam paparannya, Dr. Seno berseloroh bahwa tema yang disajikan untuk dia bahas sangat luas. "Perlu tiga semester membahas ini semua, semntara kali ini waktunya hanya 1,5 jam," ujar dosen IKJ Jakarta.


Dr. Seno menjelaskan posisi Cultural Studies yang, menurutnya, tidak berangkat dari anggapan bahwa kebenaran merupakan sesuatu yang bersifat esensial dan tetap. Cultural Studies justru tertarik melihat bagaimana sesuatu dikonstruksi dan kemudian diterima sebagai kebenaran.


“Mengapa sesuatu dianggap benar, siapa yang membuatnya menjadi kebenaran, itu yang dikaji Cultural Studies,” ujar Seno.


Media dan film sebagai konstruksi realitas

Seno banyak mengulas bagaimana media dan film menghadirkan konstruksi realitas. Apa yang ditampilkan dalam film, menurutnya, bukanlah realitas sesungguhnya, melainkan realitas yang telah dikonstruksi melalui berbagai perangkat dan kode.

Dalam film, konstruksi tersebut antara lain dapat dilihat melalui penggunaan kamera close-up, wide shot, posisi kamera, pencahayaan, serta berbagai pilihan sinematik lainnya. Pilihan-pilihan tersebut tidak berlangsung secara alamiah, tetapi merupakan bagian dari cara pembuat film membangun makna.


“Semua itu bukan sesuatu yang alami, bukan yang real, bukan realitas, tetapi yang dikonstruksi untuk tujuan tertentu,” jelas Seno.


Menurutnya, prinsip serupa juga berlaku pada media. Berita yang diterima masyarakat tidak terlepas dari proses seleksi, penyusunan, dan penyajian. Karena itu, media tidak semata-mata menjadi saluran yang menyampaikan realitas, tetapi turut berperan dalam membentuk cara masyarakat memahami realitas.


Dalam konteks ini, Seno juga menyinggung pemikiran Marshall McLuhan tentang the medium is the message. Menurutnya, medium yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan turut menentukan bagaimana pesan tersebut diterima oleh khalayak.


Ia memberikan ilustrasi bahwa sebuah berita yang sama dapat memperoleh tingkat kepercayaan yang berbeda ketika dibacakan oleh orang dengan karakter dan konteks yang berbeda.


“Benar tidaknya sesuatu bukan hanya pesannya, tetapi apa mediumnya. Kalau berita dibaca oleh penyiar berita dengan cara yang rapi, orang percaya berita itu benar. Tetapi kalau dibaca oleh komedian, orang bisa saja tidak percaya, padahal teks berita yang dibaca sama,” ujarnya.


Mempertanyakan prinsip cover both sides


Dalam pembahasan mengenai jurnalistik, Seno juga mengangkat prinsip cover both sides, yakni kewajiban wartawan menghadirkan pandangan dari kedua pihak dalam suatu persoalan. Prinsip tersebut secara normatif dipandang sebagai salah satu cara untuk menghadirkan pemberitaan yang berimbang.


Namun, Seno mengajak peserta melihat prinsip tersebut secara kritis. Menurutnya, menghadirkan dua pihak belum otomatis menghasilkan kebenaran apabila kedua pihak yang diwawancarai memberikan informasi yang tidak benar.


“Bagaimana kalau kedua belah pihak tidak jujur alias berbohong? Apakah yang ditulis wartawan dengan menerapkan cover both sides berarti benar?” tanyanya.


Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara media, kebenaran, konstruksi realitas, dan posisi khalayak dalam memahami informasi.


Kuliah tamu kemudian berkembang menjadi sesi tanya jawab. Sejumlah peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali lebih jauh pemikiran Seno mengenai media, film, jurnalistik, dan Cultural Studies. Namun, karena keterbatasan waktu, tidak semua pertanyaan dapat dibahas secara mendalam.


Prof. Darma mengatakan antusiasme peserta menunjukkan bahwa tema kuliah tamu memiliki relevansi yang kuat dengan kajian budaya kontemporer.


Kehadiran Seno Gumira Ajidarma, menurutnya, memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh perspektif langsung dari seorang akademisi-praktisi yang memiliki pengalaman panjang dalam sastra, jurnalistik, dan perfilman Indonesia.


"Narasumbernya mahir, pesertanya tersihir, diskusi mengalir," ujar Prof. Darma (*).