Prodi Doktor Kajian Budaya FIB Universitas Udayana Laksanakan Pengabdian kepada Masyarakat Bertema “Living Heritage Museum Bali”

Prodi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Museum Bali dengan tema "Living Heritage Museum Bali", Kamis, 29 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung setengah hari itu diikuti 50 peserta (dosen, mahasiswa, staf, dan alumni) serta pihak Museum Bali.


Acara pengabdian diawali pagi hari dengan penyerahan secara simbolis sekitar 10 tanaman langka untuk upakara, dilanjutkan dengan penanaman simbolis oleh Kepala Museum, Ida Ayu Sutariani, S.S., M.Si., didampingi oleh Korprodi S3 Kajian Budaya, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. Mereka menanam sirih/pinang merah di halaman Museum Bali. Pinang merah ditanam di dekat pohon kamboja berusia tua karena di sanalah pinang akan merambat.


"Sirih merah belum ada di sini, kalau sirih hijau ada," ujar Kepala Museum Bali, Dayu Sutariani. Tanaman lain yang disumbangkan adalah nagasari, majegau, cempaka, aren, rijasa, sirih (hijau dan merah), belimbing, dan cemara gesang.


Kegiatan penanaman tanaman upakara sepertinya direstui semesta. Hujan turun sebelum penanaman dilakukan. Sesudah itu, langit terang, hujan berhenti, dan penanaman dilakukan dengan lancar.


Menurut Kepala UPTD Museum, Ida Ayu Sutariani, di halaman museum sudah tertanam cukup banyak tanaman dan jumlahnya akan terus ditambah sesuai ketersediaan tempat. Yang penting, masyarakat nanti tahu bahwa di Museum Bali tersedia tanaman yang mungkin diperlukan untuk sarana upakara dan sulit dicari di tempat lain.


"Para tamu, pengunjung museum, juga bisa diperkenalkan dengan tanaman yang ada, yang unik, yang berkaitan dengan budaya Bali," ujar Kepala Museum.


Diskusi "Living Museum"


Setelah penanaman tanaman upakara langka, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengenai living museum, dengan narasumber Ida Ayu Sutariani (Kepala Museum Bali), Ida Bagus Agung Gunarthawa (Direktur Samsara Living Museum), dan Prof. Dr. I Wayan Windia, S.H., M.Si. (alumni sekaligus penulis buku Taman Gumi Banten).


Kepala Museum Bali berusaha keras bersama tim untuk mewujudkan visi dan misi Museum Bali dalam pelestarian budaya Bali dan menjadikan Museum Bali sebagai living museum. "Kami mengadakan berbagai kegiatan untuk siswa agar mereka mengenal koleksi Museum Bali dan mengenal budayanya," ujar Dayu Sutariani.


Kegiatan yang diadakan melibatkan siswa, seperti lomba cerdas-cermat budaya, lomba membuat video klip museum, storytelling, dan permainan tradisional Bali. "Kami juga menggunakan media sosial untuk memperkenalkan museum kepada masyarakat agar mereka tertarik untuk datang ke museum dalam rangka mengenal budaya Bali," tambah Dayu Sutariani.


Dengan banyaknya aktivitas di museum dan pengunjung yang bisa aktif dalam kegiatan, Museum Bali mengarahkan manajemennya ke living museum.


Belakangan, Museum Bali mengambil inisiatif menanam tanaman langka, yang juga menambah dimensi baru dari living museum, karena menanam tanaman hidup.


Prof. Wayan Windia menjelaskan bahwa pihak Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unud sudah merintis identifikasi tanaman langka untuk upakara dan melakukan penanaman di berbagai pura dan daerah Besakih.


"Tanaman upakara makin berkurang karena lahan berkurang, sementara kebutuhan untuk upakara semakin banyak. Solusinya ya harus ditanam," ujar ahli hukum adat Bali itu.


Ida Bagus Agung Gunarthawa (Direktur Samsara Living Museum) menjelaskan perkembangan berbagai museum di Karangasem, daerah yang sebelumnya selalu dilabeli sebagai daerah sulit berkembang. "Dengan usaha dan mencari celah khusus, Karangasem bisa menjadi magnet untuk dikunjungi," ujar Bagus Agung. Buktinya, di Karangasem terdapat beberapa museum, termasuk Samsara Living Museum, yang jumlah pengunjungnya dalam setahun sudah mencapai 20 ribu. Mereka adalah wisatawan minat khusus, terutama dari kalangan pendidikan.


Sementara itu, Prof. Darma Putra menyambut baik inisiatif Museum Bali menanam tanaman langka untuk upakara karena bisa memperkuat museum dalam merealisasikan visi dan misinya, yaitu pelestarian budaya Bali. "Gagasan menjadikan Museum Bali sebagai living museum semakin bertambah dengan bertambahnya daya tarik museum lewat tanaman upakara yang hidup," ujarnya.


Segala usaha menjadikan Museum Bali sebagai living museum dapat menjawab kekhawatiran sejak awal yang mengatakan 'Bali sebagai living museum'. "Bukan living atau kehidupan yang dijadikan museum, tetapi museumlah yang di-living-kan atau dihidupkan agar jangan menjadi tempat pajangan artefak saja," ujar Darma Putra.


Berbagai isu pembinaan museum dibahas dalam diskusi yang dipandu oleh Agus Mahendra Putra. Tanggapan disampaikan oleh para dosen dan mahasiswa, seperti Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.A., Dr. Putu Ari Sulatri, Dr. Anak Agung Dalem, Dr. Dewi Pascarani, Tohap Simare-mare, dan Rochtri Agung Bawono. Ke depan, kedua belah pihak, yaitu Museum Bali dan Prodi Kajian Budaya, berharap kerja sama dan kolaborasi bisa diwujudkan untuk pelestarian budaya dan pemajuan museum


 


Museum Bali dikunjungi banyak wisatawan asing, kadang bisa 10 bus wisatawan kapal pesiar, karena secara universal museum adalah daya tarik wisata utama bagi wisatawan untuk dikunjungi. Museum Bali yang memiliki sekitar 16 ribu koleksi kini dalam masa renovasi, diharapkan operasionalnya bisa normal usai perbaikan. Sebagai lembaga pemerintahan, Museum Bali juga banyak menerima mahasiswa magang dan kunjungan dari sekolah. (*).