Dosen IAHN Mpu Kuturan Singaraja IBG Paramita Raih Gelar Doktor Kajian Budaya Ke-300 di FIB Universitas Udayana
Dosen Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Ida Bagus Gede Paramita, resmi meraih gelar doktor dalam bidang Kajian Budaya setelah dinyatakan lulus dalam ujian terbuka di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana, Jumat, 19 Desember 2025.
Dalam sidang yang berlangsung dua jam tersebut, IBG Paramita dinyatakan lulus sebagai doktor ke-300 (sejak Prodi Doktor S3 Kajian Budaya berdiri tahun 2001) dengan predikat sangat memuaskan.
Doktor IBG Paramita berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Pergulatan Kuasa Simbolik Ulu Desa dengan Prajuru Desa Adat di Desa Pedawa dan Julah, Bali Utara.”
Sidang ujian terbuka dipimpin oleh Koprodi Doktor Kajian Budaya FIB Unud, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. (Promotor), Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A. (Ko-promotor I), Dr. Drs. I Wayan Suardiana, M.Hum. (Ko-promotor II), serta para penguji Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A.; Prof. Dr. I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa, M.Si.; Dr. Ni Luh Sinar Ayu Ratna Dewi, S.S., M.Ag.; Dr. Ida Bagus Wika Krishna, M.Si.; Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.Hum., M.Hum., dan Dr. Putu Titah Kawitri Resen, S.IP., M.A.
Tradisi Budaya Bali Aga Bali Utara
Dalam disertasinya, IBG Paramita menjelaskan bahwa tradisi dan budaya Bali Utara—khususnya di desa-desa Bali Aga seperti Pedawa dan Julah—berakar pada warisan Bali Kuno yang kemudian mengalami pengaruh Majapahit. Interaksi dua lapisan budaya ini melahirkan struktur adat yang khas serta dualias kepemimpinan, yang terus bertransformasi seiring hadirnya regulasi negara.
Penelitian ini bertujuan memahami pergulatan kuasa simbolik antara Ulu Desa dan Prajuru Desa Adat, sekaligus menelaah cara masyarakat Bali Aga menegosiasikan eksistensi budaya, mempertahankan otentisitas tradisi, dan beradaptasi dengan regulasi negara serta tekanan modernitas.
Kajian ini menyoroti dinamika interaksi antara otoritas simbolik-kultural dan legal-birokratis dalam struktur sosial dan kelembagaan desa adat, serta implikasinya terhadap identitas kolektif, pelestarian tradisi, dan adaptasi terhadap modernitas.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, masyarakat, dan akademisi, sedangkan data sekunder bersumber dari literatur, arsip, dan dokumen resmi. Analisis dilakukan dengan model interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergulatan kuasa simbolik melahirkan dualitas kelembagaan, fragmentasi sosial, sikap adaptif dan resistif terhadap tradisi, pengembangan pariwisata berbasis komunitas, serta fragmentasi religius.
Masyarakat Bali Aga tidak menerima kekuasaan eksternal secara pasif, melainkan aktif menegosiasikan tradisi dan modernitas melalui adaptasi, resistensi, dan inovasi. Identitas komunitas senantiasa dikonstruksi ulang, dengan respons yang berbeda di setiap desa.
Secara teoretis, temuan ini dijelaskan melalui pemikiran Michel Foucault, Pierre Bourdieu, dan Jean-François Lyotard. Mekanisme kekuasaan bekerja secara halus dan simbolik (Foucault), arena sosial menjadi medan pertarungan berbagai bentuk modal—ekonomi, sosial, budaya, simbolik, dan spiritual (Bourdieu), sementara masyarakat membangun narasi lokal untuk menegosiasikan identitas di tengah tekanan homogenisasi dan modernitas (Lyotard).
Penelitian ini menegaskan bahwa struktur kekuasaan adat bersifat cair, kontekstual, dan multidimensional, sekaligus memperlihatkan agensi masyarakat Bali Aga di Pedawa dan Julah dalam mempertahankan eksistensi budaya, legitimasi kekuasaan lokal, serta kapasitas adaptif terhadap perubahan sosial.
Sebagai promotor, Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., menyampaikan disertasi promovendus sangat penting tidak saja merupakan studi atas keunikan sistem lembaga dan tata kelola desa tetapi juga penuh dengan gagasan bagaimana budaya dan adat dilestarikan secara dinamik dalam perubahan yang dinamis.
“Promovendus memang giat kerja dalam riset dan penulisan. Hasilmya adalah disertasi yang baik, penuh data dan analisis serta dilaksanakan dengan kerangka teoritis yang baik,” ujar Prof. Suarka.
Dalam kesan-kesan akhir, Dr. IBG Paramita menyampaikan terima kasih kepada tim promotor dan para penguji atas berbagai masukan yang diberikan dalam proses belajar, riset, dan penulisan disertasi.
Acara sidang promosi doktor berlangsung lancar dan dinamis diwarnai dengan pertanyaan dari hadirin, yaitu dari dosen-dosen IAHN Mpu Kuturan yang hadir. Acara diakhiri dengan foto bersama dan pemberian ucapan selamat dari keluarga dan kerabat kepada doktor baru (*).



FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA