Dosen Sejarah Raih Doktor Kajian Budaya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Dosen Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana meraih gelar doktor Kajian Budaya di FIB Unud setelah berhasil mempertahankan disertasi dalam ujian terbuka di kampus setempat, Rabu, 11 Maret 2026.


Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo mempertahankan disertasi berjudul “Integrasi dan Kontestasi Diaspora Sumba dalam Masyarakat Multikultural di Bali” dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude, sebagai doktor ke-301 di Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana sejak program studi ini berdiri pada 11 Juli 2001, dua puluh lima tahun lalu.


Ujian berlangsung sekitar 2,5 jam, dipimpin oleh Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. dan dihadiri sembilan penguji, termasuk satu penguji eksternal dari Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. Hadir pula para dosen FIB, dan tokoh-tokoh dari Flobamora (Flores, Sumba, Timor, dan Alor) Bali, dan dari keluarga.


Tim penguji disertasi terdiri atas: Prof. Dr. Ni Luh Nyoman Seri Malini, S.S., M.Hum. (Promotor), Dr. Nanang Sutrisno, S.Ag., M.Si. (Kopromotor I), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (Kopromotor II) Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., Prof. Dr. I Nengah Punia, M.Si., Prof. Dr. Drs. I Made Pageh, M.Hum. (Penguji eksternal), Dr. I Made Anom Wiranata, S.IP., M.A., dan Dr. Ida Ayu Laksmita Sari, S.S.Hum., M.Hum.
 


Paparan Sari Disertasi

Dalam disertasinya, Fransiska menjelaskan bahwa penelitian tersebut mengkaji dinamika integrasi dan kontestasi diaspora Sumba di tengah masyarakat multikultural di Bali. Menurut Fransiska, meningkatnya mobilitas migrasi internal dari Nusa Tenggara Timur ke Bali memunculkan berbagai proses sosial seperti adaptasi, negosiasi identitas, relasi kuasa, hingga pengalaman marginalisasi.


“Diaspora Sumba tidak hanya menjalani proses integrasi dalam kehidupan masyarakat Bali, tetapi juga menghadapi berbagai bentuk kontestasi yang muncul dalam bidang sosial, ekonomi, maupun kebijakan,” jelasnya dalam sidang terbuka tersebut.


Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi kritis. Lokasi penelitian meliputi Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Gianyar sebagai wilayah yang banyak menjadi tujuan diaspora Sumba untuk bermukim dan bekerja selama berada di Bali. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, focus group discussion, serta studi dokumen.


Informan penelitian terdiri atas diaspora Sumba yang tinggal di Bali, pengurus organisasi diaspora Nusa Tenggara Timur di Bali, tokoh etnis Sumba, serta tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat Bali.


Dalam analisisnya, Fransiska menggunakan teori praktik, teori relasi kuasa dan pengetahuan, serta teori multikulturalisme secara eklektik sesuai dengan temuan data di lapangan. Pendekatan ini dipadukan dengan metode interpretasi kritis yang menggabungkan kritik kebudayaan dan genealogi historis.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi diaspora Sumba di Bali dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kesamaan nilai dan identitas, kepentingan ekonomi, serta solidaritas afektif di antara anggota komunitas diaspora. Bentuk integrasi tersebut tampak dalam praktik adaptasi sosial, pemanfaatan modal sosial dan ekonomi, partisipasi dalam kehidupan masyarakat, serta representasi identitas di ruang publik.


Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan adanya berbagai bentuk kontestasi yang dialami diaspora Sumba. Kontestasi tersebut dipicu oleh disparitas modal, keterbatasan akses terhadap berbagai ranah sosial, serta regulasi negara yang turut memengaruhi posisi diaspora dalam masyarakat.


“Kontestasi itu tampak dalam bentuk persaingan ekonomi, marginalisasi, stigmatisasi, serta berbagai bentuk resistensi yang dilakukan diaspora Sumba untuk mempertahankan posisi dan identitas mereka,” ujar Fransiska.


Integrasi dan kontestasi tersebut terjadi dalam berbagai ranah kehidupan, terutama dalam aspek sosial budaya, ekonomi, serta politik kebijakan di tingkat lokal. "Dalam kegiatan PON - pekan olah raga nasional - warga Sumba mewakili Bali dan menyumbangkan beberapa medali emas," ujar Siska. Banyak aktivitas sosial di mana etnis Sumba juga berkontribusi.

Fenomena tersebut juga ditandai dengan munculnya istilah “Nak Sumba”, yang menandakan adanya proses pengakuan simbolik terhadap identitas etnis Sumba dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali yang multikultural.


Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah munculnya fenomena yang disebut “Marapu modern”. Menurut Fransiska, fenomena ini menunjukkan transformasi nilai-nilai kearifan lokal Sumba yang direkontekstualisasi dalam kehidupan diaspora di Bali.


“Nilai-nilai Marapu tidak hilang ketika masyarakat Sumba bermigrasi ke Bali, tetapi mengalami transformasi sesuai dengan konteks sosial baru. Proses inilah yang melahirkan apa yang saya sebut sebagai Marapu modern,” jelasnya.


Melalui penelitian ini, Fransiska berharap kajian mengenai diaspora internal di Indonesia dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika integrasi sosial dalam masyarakat multikultural. Ia juga menekankan bahwa Bali sebagai ruang perjumpaan berbagai etnis dan budaya memerlukan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai proses interaksi antar-komunitas yang terjadi di dalamnya.


Ketua paguyuban Flobamora, Herman Umbu Billy, menyampaikan terima kasih bahwa penelitian promovenda adalah konter narasi dalam ruang akademis atas isu dan stigma yang ada, yang kerap dialami anggota paguyuban.


Dia mengapresiasi disertasi promovenda dengan merespon temuan konsep ‘marapu modern’. Walaupun sudah menjadi orang rantau, hidup di daerah modern seperti di Bali, ‘marapu’ sebagai sistem kepercayaan menghubungkan dengan Pencipta melalui leluhur tetap dijunjung tinggi.


“Kami yang perantau ini, kalau pulang kampung, kami melakoninya. Walau bagi kami yang sudah menganut agama lain yang modern seperti Kristen atau Katolik, merapu tetap menjadi laku hidup kami sehari-hari,” ujar Herman.


“Contoh yang paling nyata dalam budaya pertanian dan pasola, yang merupakan bagian dari budaya marapu, dilaksanakan sebelum masa tanam untuk mendapatkan berkah dari yang Maha Kuasa,” ujarnya.


 


Keberanian Promovenda


Promotor Prof. Ni Nyoman Seri Malini dalam sambutannya menyampaikan bahwa promovenda Fransiska memiliki keberanian yang patut dipuji dalam memilih topik riset dan dalam keberhasilan mengerjakan tesis, lewat observasi, wawancara, dan melakukan FGD.


 


Prof. Seri Malini menyampaikan selamat kepada bimbingannya yang sudah berhasil menyelesaikan pendidikan doktor secara tepat waktu (6 semester). “Ini bukan akhir dari pendidikan, tetapi awal dari tantangan akademik untuk terus belajar, meneliti, publikasi,” ujar prof. Seri Malini.


 


Dalam akhir ujian, romovenda yang sudah menjadi doktor baru, menyampaikan terima kasih kepada para penguji dan narasumber yang telah memberikan bantuan dan informasi dalam proses penelitian danpenulisan disertasi (dp)