Kabar Alumni Dr. I Nyoman Anom Fajaraditya Setiawan, S.Sn., M.Sn.: Komodifikasi Tato Genre Bali pada Ranah Turistik di Kota Denpasar

`

Angkatan: 2015

Afiliasi: Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI) Bali

Disertasi: Komodifikasi Tato Genre Bali pada Ranah Turistik di Kota Denpasar


Berawal dari niat peningkatan diri dengan lanjut studi, akhirnya membuat muara saya untuk memijakkan diri di Kajian Budaya Universitas Udayana sebagai Mahasiswa S3 angkatan 2015.



Pada perjalanan ini, menjadi hal penting dalam penentuan keputusan yang tentunya akan berdampak pula pada lingkungan sekitar dan keluarga.


Beruntung usaha tersebut mendapatkan dukungan yang luar biasa dari orang terdekat serta dari istitusi tempat saya bernaung yaitu Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI). Ditambah dengan adanya keberhasilan/keberuntungan/kesempatan meraih Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN) yang sangat membantu finasial dalam proses studi.


Berbekal niatan melanjutkan penelitian dari studi sebelumnya dalam bentuk proposal, saya membawa naskah tersebut pada momen ujian masuk. Berbagai pertanyaan kritis dilontarkan menguji kelayakan proposal yang saya bawa oleh seorang Prof. Dr. A.A. Anom Kumbara, M.A. dengan penuh wibawa. Di sinilah saya merasa begitu sangat kecil bagai butiran debu dalam dunia ini, tetapi justru menjadi pondasi kesiapan untuk kedepannya.  


 


Studi lanjut di Program Doktor (S3) Kajian Budaya di Universitas Udayana membawa saya ke perjalanan yang penuh kesan dan makna dalam pendekatan baru dalam memahami budaya. Bersama dengan angkatan yang sama, mengkaji persoalan-persoalan kebudayaan secara multi dan interdisipliner.


Hegemoni, komodifikasi, budaya populer, struktural hingga post-struktural, dan berbagai pendekatan teori budaya dari berbagai mazhab menjadi topik sehari-hari di kelas bahkan di luar kelas, memutar nalar membawa ke dalam dunia yang baru.


Perjalanan Penuh Kesan


Bahkan, angkatan kami berkesempatan mengadakan seminar dengan mendatangkan seorang Prof. Dr. Akhyar Yusuf Lubis, M.A. dari Universitas Indonesia di awal semester, perjalanan studi banding ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, kegiatan pengabdian Masyarakat, dan mengikuti berbagai seminar dengan narasumber dari dalam ataupun luar negeri.




Kepadatan kegiatan tersebut merupakan kerja keras dan kordinasi yang kuat antara mahasiswa, pengajar/pembimbing serta segenap komponen dari program studi. 


Hingga pada saatnya kami harus berkonsentrasi lebih dalam pada penelitian disertasi, teman seangkatan mulai terpecah pada misinya masing-masing. Lingkaran komunikasi mulai berperantarakan perangkat.


Bahkan, pada saat awal pandemi berlangsung, aplikasi atau sosmed menjadi hal penting untuk berdiskusi. Namun sayangnya (sekaligus penyesalan), kejadian ini sempat membuat saya terbuai bahkan sampai beberapa tahun setelah ujian kualifikasi dan proposal, sampai muncul “pecut” himbauan tentang proses studi dari fakultas.


Angkatan 2015


Saya terbangun untuk menghimpun semangat kembali menyelesaikan hutang beberapa ujian yang wajib dilalui, menghadap ke para pembimbing Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. (promotor), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. (ko-promotor 1), dan Dr. Ni Made Wiasti. M.Hum (ko-promotor 2) yang kemudian mencerahkan pikiran dan jalan menuju ke satu per satu tahapan ujian berikutnya serta sembari menyaksikan satu per satu teman dalam ujian terbuka untuk menyelesaikan studi.


Tato Genre Bali Ranah Turistik


Pada disertasi, prihal habitus masyarakat hingga kontestasi budaya, menjadi wawasan baru yang awalnya begitu kompleks atas keterbatasan kami. Artikulasi dan disartikulasi dalam budaya menjadi bahan refleksi, serta ranah turistik menjadi laboratorium dalam penelitian disertasi saya dengan judul “Komodifikasi Tato Genre Bali pada Ranah Turistik di Kota Denpasar”.


Tato Bali


Disertasi ini secara ringkas membahas tentang genre Bali sebagai fenomena kekinian menjadi bagian dari perkembangan pariwisata, para agen tato memanfaatkan situasi menawarkan peluang rajah tubuh sebagai andilnya dalam pariwisata. Pendekatan kajian budaya untuk mencari dan memahami fenomena tentang sumber inspirasi, arena kompromi dan implikasi tato genre Bali. Bertujuan mengungkap realitas genre Bali dalam ranah tato turistik.


Penelitian menunjukkan terdapat tiga peran dalam agen yang menjadi objek sumber informasi yaitu praktisi, kolektor, dan media. Hadirnya genre Bali pada setiap peran membuka tingkat pengetahuan pada peran tersebut sehingga terbentuk pengetahuan yang akan mengarahkan pada aspek lainnya saat mengalami sentuhan dampak pariwisata Bali.


Implementasinya menggiring pada komodifikasi genre Bali pada tato turistik, membuat tingkat habitus setiap peran juga memberikan andil perubahan yang terjadi.


Habitus tanpa disadari dipengaruhi juga oleh modal sosial, modal ekonomi, modal simbolik, dan modal budaya yang memunculkan suatu ikatan pada tiap peran agen hingga beragam agenda pada ranah tato turistik serta muncul ikatan yang terbangun oleh modal menjadi dasar para agen memaknai fenomena ini.


Disartikulasi Elemen Genre Bali


Implikasi kontestasi tato genre Bali juga muncul didasari atas disartikulasi elemen genre Bali pada tato turistik, kemudian menjadi alternatif tindakan oleh tiga peran agen dalam menyikapi ruang negosiasi dan mengubahnya menjadi suatu kompromi.


Majalah komunitas tato.


Popularitas tato genre Bali membawanya sebagai bagian dari budaya populer dengan adanya pengaruh komersialitas dalam budaya massa, dikarenakan disartikulasi yang dibalut dengan misi komersialitas dan terpublikasi secara masif pada beranda media sosial. Komodifikasi  berimplikasi pada pengakuan keberadaan tato dalam hal ini tato genre Bali dalam ranah tersebut sebagai bagian integral dari kebudayaan Bali di Kota Denpasar.


Penelitian tentang tato genre Bali pada ranah turistik membuka mata saya tentang bagaimana pengetahuan dalam fenomena ini terbentuk. Saya memahami bagaimana modal memengaruhi cara kita melihat dan mengartikan abstraksi fenomena dunia tato. Karakteristik masyarakat hingga ranah turistik, semuanya menjadi bahan telaah yang menggugah.


Selama studi terlakoni, (khususnya saya) merasa begitu beruntung dengan adanya komunikasi yang sangat baik dari promotor dan ko-promotor, begitu pula para pegawai terutama saat menuju tenggat akhir studi, berkenan serta responsif dalam membimbing di tiap tahapan ujian hingga menjadi seorang promovendus dan kemudian mendapatkan gelar akademis seorang Doktor Kajian Budaya.


Ditambah dengan beberapa teman/kolega yang sangat mendukung dan sekaligus menjadi pecut pula dalam semua proses serta situasi, walau tertatih dan banyak masalah eksternal yang tak diharapkan serasa selalu berusaha menghalangi dalam studi ini.


Tantangan Gelar Akademis


Studi Doktor S3 Kajian Budaya di Universitas Udayana telah mengubah saya, tidak hanya untuk memperoleh gelar akademis, tetapi juga memperoleh pandangan baru tentang dunia lengkap beserta tantangannya di pundak ini. Studi tentang budaya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan.


Semua pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh terkombinasi menjadi sebuah riset yang dalam hal ini adalah tentang tato genre Bali pada ranah turistik. Dapat dikatakan bahwa saya sangatlah beruntung mendapatkan kesempatan dari semua ini dengan berbagai suka dukanya.


Oleh sebab itu, dalam narasi ini saya mengucapkan terimakasih yang sebesar dan setingginya kepada Universitas Udayana, segenap jajaran di Fakultas Ilmu Budaya - Prodi S3 Kajian Budaya, para pembimbing serta dosen yang terpelajar, staf prodi, teman/kolega di dalam ataupun di luar negeri, dan keluarga yang sepenuh hati me-support dengan sepenuh hati.


Terima kasih Sang Pencipta, semoga tidak pernah bosan mencerahkan jalanMu dengan gelar apapun di pundak kami.***