Webinar "Kremasi Krematorium di Era Post-truth" Mengisi Acara Bulan Kajian Budaya Perayaan HUT Ke-22 Prodi Doktor Kajian Budaya Unud

`

Prof. Pitana (IPM Brahmananda)


Acara akademik ketiga dalam rangkaian acara Bulan Kajian Budaya untuk perayaan HUT Prodi Kajian Budaya ke-22 diisi dengan webinar membahas topik “Kremasi Krematorium di Era Post-truth”, Selasa, 20 Juni 2023, mulai pk. 16.00. 

Webinar menampilkan narasumber Prof Pitana (IPM Brahmananda) berlangsung hampir dua jam, yang tayangannya bisa diikuti lewat kanal youtube https://youtube.com/live/PgVMltHsO9o?feature=share


Webinar yang dipandu Dr. Nanang Sutrisno, M.Si., itu diikuti sekitar 50 peserta secara langsung dan 40 peserta lewat youtube. Selain dari Bali, peserta ada yang mengikuti webinar ada yang tinggal di Kalimantan Selatan, Korea Selatan, dan Perancis.




Seperti tampak dari survei peserta, webinar dengan topik krematorium ini sangat menarik. Peserta memberikan jawaban bahwa keseluruhan acara berlangsung: menarik (23%) sampai luar biasa menarik (30,8%). Prodi S3 Kajian Budaya disarankan untuk sering mendiskusikan masalah adat dan budaya Bali di tengah arus  perubahan lokal, nasional, dan global.



Isu Aktual


Korprodi S3 Kajian Budaya, Prof. I Nyoman Darma Putra, dalam pengantarnya menyampaikan kremasi krematorium merupakan isu yang aktual. Walaupun fenomena dalam tradisi Hindu di Bali itu sudah dimulai 15 tahun lalu, masalahnya masih hangat.

“Kehadiran kremasi krematorium masih disambut pro dan kontra,” ujar Prof. Darma. Ada krematorium yang buka, dipersoalkan, tapi berlanjut, ada juga yang dibuka lalu beroperasi kemudian ditutup. 

Yang jelas, kini jumlah krematorium semakin bertambah, dan menyebar di berbagai kabupaten, seperti Tabanan, Jembrana, Buleleng, dan Klungkung.


Narasumber Utama


Narasumber utama dalam webinar ini adalah Prof Pitana yang kini sudah menjadi pendeta dengan gelar Ida Pandita Mpu Brahmananda. Beliau menyajikan materi dengan judul “Ngaben-Kremasi-Krematorium Inovasi, Efisiensi, Fungsi, Industrialisasi, Gengsi, Tradisi, dan Internalisasi”.

Kremasi krematorium adalah fenomena baru di mana warga memilih melakukan kremasi di krematorium, bukan lewat kremasi konvensional di kuburan desa. Pilihan kremasi di krematorium ini terjadi karena kepraktisan.

Menurut Prof. Pitana, selain jumlah krematorium bertambah, jumlah jenazah yang dikremasi juga bertambah. Ada krematorium yang dikelola oleh elit warga, ada juga yang dikelola oleh desa, yang terakhir ini contohnya I Desa Pengeragoan di jembrana dan Desa Beda di Tabanan. 


Solusi Bagi Warga


Dalam presentasinya, Prof. Pitana menyampaikan bahwa kremasi melalui krematorium awalnya merupakan jalan ke luar bagi warga kalau ada ketentuan waktu yang tidak memungkinkan kremasi secara konvensional di kuburan desa.


Selain itu, kremasi di krematorium juga bertujuan untuk: Membantu umat yang tidak mampu; Mencegah ‘pemerasan’ atas nama upacara oleh kelompok tertentu; jalan ke luar permasalahan adat (kasepekang banjar); potensi untuk menjadi sumber dana.




Diperkirakan, biaya kremasi di krematorium menghabiskan 33% dari biaya kremasi di desa. Sebagai contoh, biaya kremasi di Pengeragoan Jembrana Rp 23 juta, di Desa Tista di Singaraja Rp 19 juta, di krematorium Santayana di Cekomaria Denpasar biayanya Rp 31 juta dengan rangkaian upacara sampai ngelinggihang (menstanakan almarhum sebagai leluhur).

“Ini bukan soal hemat dan praktis, yang jelas pelaksanaan kremasi di krematorium tidak menyalahi ajaran agama,” ujar Prof Pitana.

Prof Pitana menyimpulkan bahwa kremasi di krematorium adalah kebudayaan baru di Bali yang tidak lepas dari kebudayaan lama, misalnya, ketika kremasi di krematorium unsur banjar, warga, ritual upacara semuanya tetap.


Diskusi Hangat


Dalam diskusi, banyak pertanyaan dari peserta, namun secara umum peserta menyampaikan hal positif tentang adanya kremasi krematorium ini terbukti dari pertanyaan kritis dari peserta seperti Prof. I Wayan Pastika, Dr. Maria Matildis Banda, Made Ariawan, IB Yogi. 




Prof. Pastika 


Prof Pastika, dosen FIB Unud, menyampaikan bahwa kremasi di krematorium sudah merupakan opsi bagi desa adat. Dia memberikan contoh desa adat yang membuka tiga opsi dalam pelaksanaan kremasi: ngaben massal secara bersama, ngaben mandiri secara sendiri, dan krematorium. “Masyarakat mendapat pilihan dan ini bagus,” ujar Prof.Pastika.


Dr. Maria Matildis Banda mengagumi kemampuan masyarakat Bali dalam melestarikan tradisi dengan adaptif. "Saya setuju dengan Prof. Pitana bahwa kebudayaan itu bukanlah end product, bukan produk final, tetapi terus berproses dalam perubahan," komennya.

 

Prof. IGB Suka Arjawa dari FISIP Unud juga menyampaikan bahwa kremasi di krematorium merupakan opsi dan solusi, yang penting esensinya dilaksanakan, cara dan tata laksananya bisa di krematorium.




Prof. Suka Arjawa


“Intinya adalah, kremasi mesti dilaksanakan secara gembira oleh keluarga, dengan demikian kalau di krematorium bisa dengan gembira boleh saja, kalau di desa dengan gembira silakan,” ujar mantan Dekan FISIP Unud.

 

Survei: Topik Luar Biasa


Panitia mengedarkan kuesioner atas pelaksanaan webinar bertopik kremasi. Pertanyaan yang diajukan adalah kualitas topik, kualitas presentasi, suasana diskusi. Kuesioner diisi oleh 52 peserta, dengan hasil seperti berikut.

 

Mereka juga memberikan saran yang bisa dibaca dalam foto di bawah ini (*/dp)