Kaji Stigma Mantan Warga Binaan Pemasyaratkan Perempuan, Penyuluh Agama Kristen Kemenag Kota Denpasar Raih Doktor Kajian Budaya di Universitas Udayana
Penyuluh agama Kristen pada Kementerian Agama Kota Denpasar berhasil meraih gelar doktor Kajian Budaya di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana setelah mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka, Kamis, 12 Maret 2026, di kampus setempat.
Promovenda, Made Narawati, S.Th., M.Si., mempertahankan disertasi berjudul “Model Counter Stigma Mantan Warga Binaan Pemasyarakatan Perempuan dalam Kehidupan Sosial di Kota Denpasar” dan dinyatakan lulus dengan predikat dengan pujian (cumlaude). Ia tercatat sebagai doktor ke-303 dari Program Studi Kajian Budaya FIB Universitas Udayana yang kini berusia 25 tahun sejak berdiri pada 11 Juli 2001.
Ujian terbuka yang dipimpin Korpdo Doktor Kajian Budaya, oleh Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., berlangsung sekitar dua setengah jam dan dihadiri mahasiswa, dosen Senat FIB Universitas Udayana, serta undangan kerabat promovenda dari penyuluh agama, peserta FGD untuk risetnya, dan Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan Ni Luh Putu Andiyani, AMd. I.P.,S.H., M.H.
Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A. selaku promotor; Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. sebagai ko-promotor I; Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S. sebagai ko-promotor II; serta anggota penguji Dr. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A., Dr. I Wayan Suardiana, M.Hum., Dr. A.A.A. Ngr. Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., M.H., Dr. I Made Anom Wiranata, S.I.P., M.A., dan Dr. Nuning Indah Pratiwi, S. Sos., M.I. Kom., C. Med.
Selain bekerja sebagai penyuluh agama Kristen pada Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar, Made Narawati kelahiran Buleleng itu juga merupakan pendeta di Gereja Kristen Protestan di Bali (GKPB). Ia aktif dalam pembinaan umat sebagai rohaniwan, narasumber, dan pengkhotbah di berbagai instansi pemerintah, lingkungan gereja lintas denominasi, kampus, media, dan masyarakat umum.
Made Narawati juga terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi dan pelayanan sosial. Ia memimpin kepanitiaan Rapat Koordinasi Nasional Perkumpulan Perempuan Alumni Pendidikan Teologi di Indonesia (Peruati) tahun 2026 serta menjabat sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan pada Lembaga Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejawi Daerah (LPPD) Provinsi Bali periode 2025–2029.
Intisari Disertasi
Dalam disertasinya, promovenda Made Narawati meneliti pengalaman mantan warga binaan pemasyarakatan (WBP) perempuan di Kota Denpasar yang telah menyelesaikan masa hukuman dan berupaya kembali menjalani kehidupan sosial di masyarakat. Ia menemukan bahwa stigma sosial sering kali menjadi hambatan utama bagi mantan WBP perempuan dalam proses reintegrasi sosial.
“Stigmatisasi masyarakat menyebabkan mantan WBP perempuan mengalami kesulitan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya,” ujar Narawati dalam pemaparannya.
“Namun di sisi lain, stigma tersebut juga dapat menjadi dorongan bagi mereka untuk bangkit dan membangun citra sebagai perempuan yang tangguh dan mandiri,” tambahnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan memadukan teori praktik sosial, teori stigma, teori agency, dan teori pemberdayaan. Data diperoleh melalui observasi, dokumentasi, wawancara mendalam, serta Focus Group Discussion (FGD) dengan berbagai pemangku kepentingan di Kota Denpasar.
Narawati menjelaskan bahwa keberhasilan reintegrasi sosial mantan WBP perempuan sangat dipengaruhi oleh penerimaan diri, dukungan keluarga, serta keterlibatan berbagai pihak.
“Counter stigma dimulai dari penerimaan diri atau self acceptance, yang dalam konteks budaya Bali diperkuat oleh nilai jengah—dorongan moral untuk bangkit dari keterpurukan,” katanya.
Hasil penelitian ini juga menghasilkan model pemulihan citra mantan WBP perempuan yang disebut model heptahelix “PELITA MAS”. Model ini menekankan kolaborasi tujuh pemangku kepentingan, yakni pemerintah, edukator, lembaga swadaya masyarakat, industri, tokoh masyarakat, keluarga, dan media massa.
Menurut Narawati, kolaborasi tersebut memungkinkan mantan WBP perempuan mentransformasi stigma yang bersifat destruktif menjadi kekuatan konstruktif melalui proses pemberdayaan. “Dengan dukungan berbagai pihak, mereka dapat menjadi pelita atau cahaya penerang dalam kehidupan sosialnya di masyarakat,” ujarnya.
Promovenda mendapat pertanyaan tajam dari para penguji, namun ia dapat menjawab dengan baik dan memuaskan. Pertanyaan dan apresiasi juga diajukan para hadirin yang terdiri atas peneliti, pendeta, serta Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan, Ni Luh Putu Andiyani, A.Md.I.P., S.H., M.H.
Promotor Ni Luh Sutjiati Beratha menyampaikan selamat kepada promovenda karena kerja kerasnya telah memberikan hasil yang memuaskan. “Promovenda layak lulus dengan pujian—cum laude—karena disertasinya bagus, dan promovenda sudah mempublikasikan artikel di jurnal internasional bereputasi Scopus Q2,” ujar Prof. Sutjiati.
Selain itu, Prof. Sutjiati juga yakin bahwa temuan disertasi berupa model counter stigma berbasis pengampu kepentingan yang diberi label PELITA MAS dapat diterapkan di masyarakat. “Sambutan dari pihak lapas dan para pemangku kepentingan lainnya sudah menunjukkan arah implementasi dari temuan promovenda,” ujar Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana.
Ujian diakhiri dengan penyerahan sertifikat kelulusan kepada doktor baru oleh promotor, dilanjutkan dengan penyampaian pesan dan kesan serta sesi foto bersama. (dp)



FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA