Profesor University of Melbourne Berikan Kuliah Tamu tentang 'Sustainability' di Prodi Doktor Kajian Budaya FIB Unud

`

Prof. Thomas (kemeja kehijauan) menjelang kuliah umum (Foto Darma Putra)


Dosen Asia Institute, University of Melbourne, Australia, memberikan kuliah tamu yang terbuka untuk umum di Prodi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Selasa, 27 Juni 2023.


Prof. Thomas Reuter memberikan kuliah umum dengan topik “Sustainability as a Cultural Problem: On the Role of the Environmental Humanities and Social Sciences in Addressing the Central Challenge of the 21st Century”. Dalam menyampaikan kuliah dan diskusi, Prof Thomas didampingi Dr. Kadek Krishna Adidharma, ahli dalam mitigasi bencana dari New Zealand.




Kuliah umum dilaksanakan di Ruang Sukarno FIB Unud, disiarkan secara hibrid lewat webex dan kanal Youtube (Klick Youtube). Diikuti sekitar 60 peserta secara langsung, kuliah umum berlangsung lancar dan tanya-jawab yang dialogis.


 Acara  dibuka oleh Korprodi S-3 Kajian Budaya, Prof I Nyoman Darma Putra. Dalam sambutannya, Prof. Darma Putra menyampaikan kuliah umum ini merupakan bagian dari kegiatan “Bulan Kajian Budaya” dalam rangka HUT ke-22 Prodi Doktor Kajian Budaya.




“HUT kali ini bertema Deeply Highly Cultural Studies,” ujar Darma Putra, sambil menambahkan rasa syukur bisa menampilkan narasumber kelas dunia dalam rangkaian acara HUT yang berlangsung sebulan “Bulan Kajian Budaya” (Agenda acara).


Anthropocene dan Kecil Itu Indah

Dalam presentasinya, Prof. Thomas menguraikan tentang era anthropocene (antroposen) di mana bumi dikuasai dan didominasi oleh perilaku manusia, namun kini manusia menghadapi berbagai persoalan termasuk perubahan cuaca (climate change) karena perilaku manusia.



Offline dan Online


Menurut Prof Thomas, keberhasilan manusia sebagai spesies didasarkan pada kemampuan manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk bekerja sama dalam sistem sosial berbasis aturan yang berkembang yang menyerupai ekosistem alami. Ini dikenal sebagai Ekonomi Moral.


“Namun, kehadiran kapitalisme memberikan daya destruktif yang luas dan kuat,” kata penulis buku Custodian of The Sacred Mountains : Budaya dan Masyarakat di Daerah Pegunungan Bali. 




Menurut Prof. Thomas, kehidupan manusia semakin jauh dari konsep ‘cukup’, manusia tidak pernah merasa cukup. Ini terjadi karena ‘cukup’ itu diganti maknanya menjadi ‘aman’. ‘Punya’ saja tidak ‘cukup’ tetapi harus memiliki ‘banyak’ agar ‘aman’. Akibatnya kebutuhan manusia baru dianggap ‘cukup’ kalau orang menguasai dua kali atau tiga kali lipat dari cukup untuk mengejar rasa aman.


“Ini yang tidak perlu karena akan menggunakan banyak sumber daya, berlawanan dengan mewujudkan keberlanjutan,” ujar Prof. Thomas.




Prof. Thomas berpendapat untuk bisa mewujudkan konsep keberlanjutan, perilaku manusia yang harus diubah, dapat bercermin dari konsep ‘kecil intu indah’.


Dalam kuliahnya, Prof Thomas menyinggung pemikiran “small is beautiful” dari penulis terkenal E.F. Schumacher yang terbit dari 1973, sebagai pemikiran yang hebat. 


“Pas sekali konsep kecil itu indah. Kita tidak perlu lebih dari yang kita perlukan,” kata Prof. Thomas penulis buku Rumah Leluhur Kami Kelebihdahuluan dan Dualisme Dalam Masyarakat Bali Dataran Tinggi.




Prof. Thomas berpendapat bahwa ilmu budaya sangat penting dalam zaman antroposen ini untuk mengubah perilaku manusia.


“Tugas ilmu budaya dan sosial adalah agar jeli mengamati dan mengangkat yang masih dalam kondisi tidak sadar (unconscious) menjadi sadar, tentang kecil itu indah, untuk menjaga sustainability atau keberlanjutan,” ujarnya. 



Prof. Thomas, Prof. Darma Putra, Dr. Kadek Krishna, dan Naniek Kohdrata (moderator)


Ditanya akan posisi kelompok optimistis dan pesimistis tentang sustainable di masa depan, Thomas menyampaikan tugas ilmuwan antara lain untuk membangun kesadaran untuk berkolaborasi membangun tujuan yang sama.


Banyak pertanyaan disampaikan dan respon diberikan oleh Prof. Thomas dan Dr. Kadek Krishna membuat kuliah umum terasa mencerahkan. Jawab-jawabannya diberikan  merangsang peserta untuk berfikir dan memikirkan kembali apa yang dilihat dan diamati dalam perilaku manusia terhadap bumi di era antroposen ini (dp).